Manuskrip Sufi di Cina

Pernahkah terlintas dalam benak pikiran kita bahwa sinar cahaya sufi sudah berkemilau cemerlang sampai negeri Cina?

Manuskrip Sufi di Cina

Manuskrip Sufi di Cina - Pernahkah terlintas dalam benak pikiran kita bahwa sinar cahaya sufi sudah berkemilau cemerlang sampai negeri Cina? Mungkin, kita balik bertanya: jangankan kemilaunya cahaya sufi yang menjadi the heart of Islamic religion, Islam dalam konteks syariah oriented saja masih begitu langka. Ini, kurang lebih sama dengan kelangkaan studi-studi Islam dalam literatur Cina. 

Intelektual sekaliber Raphael Israeli dalam Islam in China: A Critical Bibliography, (Westport, 1994); Donal Daniel Leslie dalam Islam in Traditional China: A Short History to 1800(Canberra, 1986); dan juga Islamic Literature in China, serta Joseph F. Fletcher dalam Studies on Chinese and Islamic Inner Asia, adalah di antara yang sedikit dan langka itu.

Tapi, yang sedikit agak surprise dan mengejutkan kita di tengah kelangkaan itu adalah kenyataan hadirnya pemikir Muslim pertama Cina yang justru menaruh perhatian tinggi pada sisi sufistik Islam. Namanya Wang Tai-y (1573-1619). Kata J.F. Ford, Wang tidaklah memfokuskan kajiannya pada syariah, jurisprudensi Islam, kandungan Kitab Alquran dan Sunnah Nabi, tapi justru mengeksplorasi sisi sufistik Islam; persepsi Islam-Cina tentang Tuhan (God), alam semesta (the Universe) dan jiwa (the Soul), yang memang menjadi tema-tema penting dan menarik dalam kajian tasawuf.

Tentang Tuhan, misalnya bagaimana Wang mentranskripnya ke dalam teks Cina secara tepat. Dan ternyata tidaklah semudah yang kita bayangkan, semisal menyebut Tuhan dengan kata Allah. Di Cina, jauh lebih beragam dan plural, di mana komunitas Muslim Cina menyebut-Nya dengan terminologi 'heaven' semasa Dinasti Tang (618-907), antara 'heaven' dan 'Buddha' semasa Dinasti Sung (960-1279), dan sejak akhir Dinasti Ming (1368-1644), Muslim mulai merujuknya dengan idiom-idiom seperti chu (Tuhan), chen-chu (Tuhan Sejati), dan chen-tsai (Penguasa Sejati).

Karena itulah, jika hal itu didekati secara syariah yang legal-formal, ada kesan politeisme (syirik) dalam cara beragama. Ini akan lain jika didekati secara spiritualitas, seperti yang secara genuine dilakukan Wang. Penamaan Tuhan yang begitu beragam dan plural tidaklah menjadi soal secara spiritualitas, sama persis dengan penamaan asma-ul husna yang berjumlah 99 nama itu. 

Karena, meski nama tuhan itu beragam dan sangat plural, tapi hakikat sejati dari nama-nama itu sebenarnya 'Satu', yang tidak bisa 'diberikan nama' dan tidak bisa 'dijelaskan' lagi. Dalam Cina, itulah yang dinamakan 'Tao'. ''Tao yang dapat dijelaskan, bukanlah Tao yang abadi,'' kata Lao Tzu sambil menambahkan bahwa ''Nama yang dapat diberikan, bukan pula nama yang sejati''. Nah, Tao, tak lain dan tak bukan adalah 'Tuhan' itu sendiri dalam wacana teologi.

Kata Lao Tzu lagi, bahwa ''orang yang bertindak sesuai dengan Tao, Manunggal dengan tao''. Ibarat serupanya begini, ''orang yang bertindak sesuai dengan Tuhan, manunggal dengan Tuhan''. Inilah paham manunggaling kawulo gusti dalam filsafat mistik Jawa, yang sebenarnya kelanjutan saja dari wahdat al-wujud gaya Ibn 'Arabi, wahdat al-shuhud ala Syeikh Ahmad Sirhindi (w.1034/1604), coincidentia oppositorum ala Nicola de Cusanus, dan The Oneness of Existence ala pemikir Muslim Cina lainnya, Liu Chih.

Begitulah cara Wang mencairkan contradiction in term dalam paham keagamaan Islam-Cina. Hal itu juga dilakukan Wang pada technical-how memahami realitas kosmos (the universe) yang serba plural dan beragam ini. Dalam manuskrip sufi pertama di Cina, Ching-chen ta-hseh, disajikan gugatan secara filosofis-teologis; bagaimana 'Yang Satu' di atas, terkait dengan The Many, yang menjadi realitas plural kosmos di dunia ini.

Cukup mengagetkan kita, oleh karena pendasaran sejati manuskip sufi Ching-chen ta-hseh justru pada kesaksian akan ketuhanan (syahadah), sehingga mengingatkan kita pada konsep kesatuan (tauhid). Dan yang menjadi isu sentral dalam kajian tauhid (hsi-i dalam teks Cina) adalah bagaimana Tuhan (Tao), yang Satu, terkait dengan penciptaannya (the universe), sebagai the many, yang banyak? Wang tetap berkesimpulan bahwa hakikat Tuhan tetaplah Satu, dan penciptaannya sebagai the many sebenarnya tak lebih sebagai turunan derivatif dari The One.

Itulah sebabnya, Wang menekankan betapa pentingnya distingsi antara The Real One dan The Numerical One. Yang pertama adalah Tuhan dalam dirinya-sendiri (God in himself) dan Tuhan dalam esensinya (God in his essence, dzat-Nya), yang karena itu, Ia bersifat transenden dan independen total terhadap realitas kosmos yang plural. Sementara yang kedua, The Numerical One, adalah satu secara numerik, yang karena itu, dependen terhadap realitas kosmos yang plural, sehingga lebih bersifat imanen dan terkesan berwajah plural.

Konsep inilah yang kemudian direkonstruksi pemikir Cina Wing-tsit Chan dalam teks Cina sebagai ''prinsip fundamental Neo-Konfusius, bahwasanya yang subtansial adalah Satu, sementara manifestasinya menjadi beragam, sebagai realitas the many''. Tapi, realitas the many sebagai The Numerical One, tetap menjadi prinsip pertama penciptaan kosmos.

Begitulah, kita kenal sekilas pemikiran Muslim pertama Cina Wang Tai-y. Kita kenal pula, misalnya Liu Chih (1670), yang konon pernah menulis ratusan manuskrip Islam-Cina, meskipun hanya sepuluh persen saja yang diterbitkan. Di antaranya adalah T'ien-fang hsing-li, (1704), yang ditransliterasikan ke Inggris menjadi The Philosophy of ArabiaT'ien-fang tien-li [tse yao-chieh], (1710), yang ditransliterasikan ke Inggris menjadi A Selection of the Important [Rules and Proprieties of Arabia].

Nah, semua itu menjadi saksi mulai melimpahnya manuskrip Islam ke dalam teks Cina, yang kemudian oleh Profesor di Harvard University, AS, Sachiko Murata dikukuhkan sebagai karya monumental dan langka, The Chinese Gleams of Sufi Light, (State University of New York Press, 2000). Inilah era baru gemerlapnya sinar cahaya sufi di Cina.
Nama

Architect,1,Astronomy,1,Auto,3,Food,1,Health,8,History,9,Khazanah,45,Military,1,News,12,Science,4,Sport,1,Style,3,Tech,16,Travel,4,Videos,2,
ltr
item
Digopedia: Manuskrip Sufi di Cina
Manuskrip Sufi di Cina
Pernahkah terlintas dalam benak pikiran kita bahwa sinar cahaya sufi sudah berkemilau cemerlang sampai negeri Cina?
https://4.bp.blogspot.com/-m85Ez_MdCFw/WznaaBo4wJI/AAAAAAAAATU/sU9lmS_72MMfOm2RPgfEa8-SU5YvxlnKACLcBGAs/s400/manuskrip-sufi-di-cina.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-m85Ez_MdCFw/WznaaBo4wJI/AAAAAAAAATU/sU9lmS_72MMfOm2RPgfEa8-SU5YvxlnKACLcBGAs/s72-c/manuskrip-sufi-di-cina.jpg
Digopedia
https://www.digopedia.com/2018/06/manuskrip-sufi-di-cina.html
https://www.digopedia.com/
https://www.digopedia.com/
https://www.digopedia.com/2018/06/manuskrip-sufi-di-cina.html
true
5414082328370972663
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy